IPOL.ID – Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) terus menunjukkan komitmennya dalam menghadirkan inovasi teknologi transportasi yang relevan bagi Indonesia sebagai negara kepulauan. Melalui Pusat Riset Teknologi Transportasi (PRTT), BRIN menggelar kegiatan Last Lecture sebagai ajang refleksi, berbagi pengalaman, sekaligus pewarisan pengetahuan dari para periset senior kepada generasi penerus.
Kegiatan yang berlangsung di Kawasan Sains dan Teknologi B.J. Habibie, Serpong ini menghadirkan dua periset utama, yakni Peneliti Ahli Utama Sayuti Syamsuar dan Perekayasa Ahli Utama Abdul Muis.
Keduanya memaparkan perjalanan panjang riset di bidang transportasi udara dan laut yang telah berkontribusi signifikan bagi pengembangan teknologi nasional.
Dalam paparannya, Sayuti Syamsuar mengulas pengembangan teknologi pesawat amfibi yang dinilai strategis bagi Indonesia. Sebagai negara kepulauan, kebutuhan akan transportasi yang mampu menjangkau wilayah terpencil menjadi sangat krusial. Pesawat amfibi hadir sebagai solusi efektif dengan kebutuhan infrastruktur yang relatif lebih rendah dibandingkan bandara konvensional.
Ia juga menyoroti riset Wing in Surface Effect (WISE), yaitu konsep kendaraan yang memanfaatkan efek permukaan saat terbang rendah di atas air. Teknologi ini menawarkan efisiensi tinggi dengan kecepatan mendekati pesawat, namun tetap stabil di atas permukaan air.
“Pengujian pesawat dilakukan di berbagai lokasi seperti Selat Sunda dan Waduk Jatiluhur dengan berbagai metode untuk memastikan performa dan keselamatan,” jelasnya.
Lebih lanjut, Sayuti menekankan pentingnya penggunaan material komposit dalam struktur pesawat modern guna menghasilkan konstruksi yang ringan namun kuat. Ia berharap pengembangan teknologi ini dapat terus dilanjutkan dengan melibatkan industri dalam negeri maupun mitra internasional.
“Struktur pesawat canggih saat ini umumnya menggunakan material komposit. Pada prototipe yang kami kerjakan, terdapat beberapa komponen yang masih harus diimpor. Ketika proses pencetakan menggunakan metode VARI dilakukan, kami harus mencampurkan bahan-bahan impor tersebut agar menghasilkan struktur yang kuat dan ringan,” terangnya.
Sementara itu, Abdul Muis memaparkan berbagai inovasi di sektor transportasi laut, mulai dari pengembangan kapal layar Maruta Jaya 900 DWT hingga sistem transportasi sungai di Kalimantan. Kapal Maruta Jaya mengombinasikan desain tradisional phinisi dengan teknologi modern, termasuk penggunaan motor listrik dan sistem layar, sehingga mampu meningkatkan efisiensi bahan bakar.
Ia juga mengusulkan penggunaan tongkang dorong sebagai solusi transportasi batubara di sungai Kalimantan. Dibandingkan tongkang tarik, sistem ini dinilai lebih stabil, efisien, dan mampu bermanuver lebih baik di perairan berkelok.
Selain itu, inovasi kapal nelayan berbahan fiberglass turut menjadi perhatian. Teknologi ini tidak hanya menjawab keterbatasan bahan kayu, tetapi juga berkontribusi pada pelestarian lingkungan serta membuka peluang ekonomi bagi masyarakat pesisir.
“Melalui diseminasi teknologi ini, diharapkan dapat membantu mengurangi penebangan hutan secara liar sekaligus membuka peluang kerja bagi masyarakat pesisir pantai,” terangnya.
Kepala PRTT BRIN, Aam Muharam, menegaskan bahwa kegiatan Last Lecture menjadi momentum penting untuk memperkuat budaya inovasi dan kolaborasi di lingkungan BRIN. Ia berharap semangat dan dedikasi para periset senior dapat menginspirasi generasi berikutnya.
Pelaksana Harian Kepala Organisasi Riset Energi dan Manufaktur (OREM) BRIN, Taufik Hidayat, menambahkan bahwa di tengah dinamika global yang penuh ketidakpastian, inovasi menjadi kunci utama untuk bertahan dan berkembang.
“Kita harus mampu menghadirkan inovasi yang berdampak nyata. Teknologi transportasi menjadi sektor strategis yang mencakup darat, laut, hingga udara,” pungkasnya.
Melalui berbagai riset tersebut, BRIN tidak hanya mewariskan pengetahuan, tetapi juga membangun fondasi kuat bagi masa depan transportasi Indonesia yang lebih efisien, berkelanjutan, dan berdaya saing global. (ahmad)
