“Saya sebenarnya ingin memasang rambu peringatan karena banyak anak kecil bermain. Rencananya mau saya kasih tulisan ‘hati-hati banyak anak kecil’, tapi belum sempat ditulis sudah keburu viral,” ujarnya.
Ia menjelaskan, jalan di depan rumahnya kerap dilalui kendaraan dengan kecepatan tinggi tanpa peringatan, sehingga berpotensi membahayakan anak-anak yang tiba-tiba menyeberang.
“Cucu saya sering tiba-tiba nyebrang. Jadi ini untuk antisipasi, demi keselamatan. Saya hanya menutup sebagian jalan,” katanya.
Pak Uda juga menegaskan bahwa pembatas tersebut tidak bersifat permanen dan bisa dipindahkan kapan saja. Ia memastikan akses jalan tetap terbuka bagi warga yang ingin melintas.
“Kalau tidak ada aktivitas, ya saya geser. Kalau ada orang mau lewat juga silakan. Biasanya pengguna jalan juga bisa membuka sendiri, tidak ada masalah,” jelasnya.
Ia pun menyayangkan narasi yang berkembang di media sosial yang dinilai tidak utuh dan memicu kesalahpahaman di tengah masyarakat.
Peristiwa ini kembali menjadi pengingat pentingnya keseimbangan antara keselamatan lingkungan perumahan dan hak akses publik, serta perlunya komunikasi yang baik antarwarga untuk menghindari konflik serupa di kemudian hari.(Vinolla)
