“Wilayah terdampak langsung Kepulauan Andaman dan Nicobar, selatan Myanmar, Thailand bagian selatan-tengah, dan pesisir barat Aceh,” katanya.
Sementara itu, sebagian besar wilayah Indonesia lainnya disebut lebih dipengaruhi oleh Monsun Australia dan fenomena atmosfer tropis lainnya.
Guswanto menjelaskan, saat ini Monsun Australia mulai menguat dan membawa massa udara kering sehingga sejumlah wilayah Indonesia mulai memasuki masa peralihan menuju musim kemarau.
Namun demikian, fenomena atmosfer tropis seperti Madden-Julian Oscillation (MJO), Gelombang Kelvin dan Rossby masih aktif dan berpotensi memicu hujan lokal di beberapa daerah.
“Saat ini, Monsun Australia menguat, membawa massa udara kering sehingga beberapa wilayah mulai memasuki peralihan ke musim kemarau. Namun, fenomena tropis seperti Madden-Julian Oscillation (MJO), Gelombang Kelvin, dan Rossby masih aktif dan dapat memicu hujan lokal,” ujarnya.
BMKG kembali mengingatkan bahwa wilayah Aceh Barat dan Aceh Utara menjadi daerah paling berisiko terdampak langsung akibat dinamika cuaca di Teluk Benggala.
