Mereka terdiri dari masyarakat, dan panitia kurban untuk belajar sistem pemotongan daging hewan kurban yang aman, sehat, utuh, dan halal (ASUH).
“Di samping itu juga perlu kita koordinasikan juga terkait pengendalian limbah, baik itu di tempat penjualan hewan kurban maupun di tempat pemotongan hewan kurban,” tukasnya.
Hasudungan mengungkapkan bahwa pihaknya telah mengambil sejumlah sampel darah di seluruh tempat penjualan hewan kurban.
Dia menyebutkan, ada sekitar 458 sampel darah hewan kurban telah diperiksa dan dinyatakan bebas dari penyakit antraks.
“Kami juga sudah mengambil sampel tanah di tempat-tempat penjualan hewan kurban bahwa tanah-tanah di tempat penjualan itu juga bebas dari penyakit antraks karena penyakit antraks itu sangat berbahaya sekali bisa membahayakan kesehatan hewan kurban maupun mengganggu kesehatan kita,” tutupnya. (Joesvicar Iqbal)
