Menurut Anggy Umbara, film ini lahir dari persoalan yang sering dialami pasangan menikah tetapi jarang dibicarakan secara terbuka karena dianggap sensitif.
“Kadang ada hal yang dirasakan banyak orang dalam pernikahan, tetapi sulit diungkapkan. Film ini ingin membuka ruang percakapan tentang itu,” ujarnya dalam konferensi pers di Jakarta.
Menariknya, film ini tidak berusaha mencari siapa yang paling bersalah dalam konflik keluarga. Setiap karakter ditampilkan memiliki alasan, kebutuhan, dan beban masing-masing. Damar berada di posisi sulit sebagai suami sekaligus anak yang harus menghidupi keluarganya, sementara Intan berjuang mempertahankan rumah tangga tanpa mengabaikan perasaannya sendiri.
Raihaanun mengaku atmosfer selama proses produksi turut membantunya merasakan tekanan yang dialami karakter Intan. Menurutnya, suasana di lokasi syuting membuat emosi karakternya terasa lebih nyata.
“Saya bisa merasakan bagaimana Intan berada dalam situasi yang membuatnya tertekan dan sulit menyuarakan apa yang sebenarnya dirasakan,” katanya.

