“Salah satu yang utama adalah pembangunan pembangkit listrik tenaga sampah, kalau nanti sudah selesai kurang lebih akan menghasilkan sampai dengan 120 megawatt,” katanya.
Hadirnya PLTSa diharapkan dapat memangkas ketergantungan Jakarta terhadap pembangkit listrik tenaga batu bara. Pramono menilai, polusi udara Jakarta tidak hanya bersumber dari transportasi internal, tetapi juga dipicu oleh emisi dari pembangkit listrik di wilayah sekitar.
“Kalau itu bisa dikurangi, terutama di daerah Suralaya yang kemudian udaranya masuk ke Jakarta, itu akan secara signifikan mengurangi,” katanya.(Sofian)
