Ibu Dian mengaku sempat menghadapi tantangan karena ada penolakan dari sebagian penghuni di wilayah tersebut. Meski begitu, ia tetap berusaha hadir dengan pendekatan yang sabar dan membangun kepercayaan.
Dari proses itulah, perlahan mulai muncul perubahan.“Saya pernah diajak oleh dinas ke suatu tempat yang tingkat tuna susilanya cukup tinggi. Di sana saya mengajarkan apa yang bisa saya ajarkan, seperti cara bikin kue dan jajanan pasar. Tantangannya cukup berat karena awalnya ada penolakan, tapi alhamdulillah dari kelompok itu ada dua orang yang sekarang sudah punya toko kue sendiri,” ungkap Ibu Dian.
Dua orang tersebut kini berhasil menjalankan usaha kue, mulai dari risoles, dadar gulung, hingga berbagai jajanan pasar lainnya. Perjalanan mereka pun tumbuh secara bertahap. Dari yang awalnya berjualan keliling menggunakan motor, kini sudah memiliki toko kue sendiri.
Melalui pendampingan PNM, Ibu Dian merasakan bahwa modal usaha bukan hanya berbentuk pembiayaan. PNM menghadirkan tiga modal penting bagi nasabah, yaitu modal finansial, modal intelektual, dan modal sosial. Modal finansial membantu nasabah mengembangkan usaha, modal intelektual hadir melalui pembelajaran dan peningkatan kapasitas, sementara modal sosial tumbuh melalui jejaring kelompok yang membuat nasabah saling mengenal, saling mendukung, dan saling menguatkan.
