Ia menegaskan, FPRMI tidak boleh hanya menjadi organisasi tempat berhimpunnya para pimpinan redaksi, tetapi juga harus menjadi pusat pemikiran dan gagasan bagi pembangunan Aceh.
“Secepatnya kami akan menyusun kepengurusan bersama teman-teman. Setelah itu kami akan menyusun berbagai program kerja yang sesuai dengan karakter organisasi ini,” kata Saleh.
Menurutnya, sejumlah program yang akan disiapkan ke depan antara lain penguatan kapasitas pimpinan media, penyelenggaraan forum diskusi, kajian kebijakan publik, hingga penyampaian rekomendasi strategis kepada Pemerintah Aceh maupun pemerintah kabupaten dan kota.
Di era disrupsi digital, media massa menghadapi tantangan yang semakin kompleks, mulai dari persaingan dengan media sosial, derasnya arus informasi yang belum terverifikasi, tekanan ekonomi terhadap perusahaan pers, hingga perkembangan teknologi kecerdasan buatan (Artificial Intelligence) yang mengubah wajah industri media.
Karena itu, FPRMI Aceh diharapkan tidak hanya menjadi organisasi seremonial, melainkan menjadi pusat pertukaran gagasan, ruang konsolidasi para pemimpin media, sekaligus mitra strategis dalam memperkuat ekosistem pers yang sehat, profesional, independen, dan bertanggung jawab.

