Dirjen KPAII menyampaikan, penguatan komunikasi dan kemitraan internasional menjadi langkah penting dalam membuka akses pasar, memperluas jejaring industri nasional, serta menciptakan kolaborasi industri yang adaptif terhadap perkembangan teknologi global.
“Sinergi Indonesia dan Rusia juga diharapkan mampu membuka peluang kerja sama konkret yang memberikan nilai tambah bagi pengembangan industri kedua negara,” tuturnya.
Dari sisi perdagangan, hubungan ekonomi Indonesia dan Rusia menunjukkan tren positif. Nilai perdagangan bilateral nonmigas pada Triwulan – I Tahun 2026 mencapai sekitar USD 1 miliar atau meningkat 1,13 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Sementara itu, ekspor Indonesia ke Rusia pada 2024 tercatat mencapai USD 3,3 miliar, naik signifikan sebesar 13,38 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Produk unggulan Indonesia yang diekspor ke Rusia antara lain produk karet, kopi, kakao dan teh, alas kaki, komponen elektronik, serta produk kimia.
Lebih lanjut, pertemuan bilateral tersebut juga menjadi ajang untuk membahas peluang kolaborasi yang lebih luas dalam kerangka BRICS, terutama menjelang keketuaan Tiongkok pada tahun mendatang. Indonesia berharap momentum tersebut dapat dimanfaatkan untuk semakin meningkatkan banyak kerja sama industri dan investasi antarnegara anggota BRICS.
