Analis pasar uang, Lukman Leong, menilai tekanan terhadap rupiah masih cukup kuat. Menurutnya, penguatan dolar AS didorong oleh data ketenagakerjaan Amerika Serikat yang lebih baik dari perkiraan pasar.
“Rupiah berpotensi kembali melemah seiring penguatan dolar AS yang didukung data tenaga kerja AS yang solid,” ujar Lukman, Senin (8/6/2026).
Ia menambahkan, ketidakpastian geopolitik global juga masih menjadi faktor yang membebani mata uang negara berkembang, termasuk rupiah.
“Eskalasi ketegangan di Timur Tengah turut meningkatkan permintaan terhadap aset safe haven seperti dolar AS, sehingga memberikan tekanan tambahan bagi rupiah,” jelasnya.
Untuk perdagangan hari ini, Lukman memperkirakan nilai tukar rupiah akan bergerak di kisaran Rp18.000 hingga Rp18.150 per dolar AS.
Meski tekanan eksternal masih mendominasi, pelaku pasar tetap mencermati perkembangan data ekonomi global dan respons kebijakan moneter yang berpotensi memengaruhi arah pergerakan rupiah dalam jangka pendek.(bam)
