Menurutnya, kelompok yang diduga melakukan provokasi kemudian masuk ke kawasan permukiman di Kalijudan dan dikejar oleh sejumlah pesilat hingga akhirnya memicu bentrokan.
Peristiwa tersebut terjadi meski sebelumnya Polrestabes Surabaya telah melarang konvoi maupun arak-arakan perguruan silat di wilayah Kota Surabaya. Aparat keamanan juga diketahui melakukan penyekatan di sejumlah titik guna mencegah konsentrasi massa.
Salah seorang warga setempat, Agus (42), mengaku tidak dapat memastikan identitas kelompok yang terlibat bentrok karena banyak di antara mereka menutupi sebagian wajah.
Meski demikian, ia melihat sejumlah orang membawa benda yang berpotensi digunakan untuk menyerang, seperti tongkat, besi, kayu, hingga petasan.
“Bawa tongkat, besi, kayu, ada yang bawa petasan. Warga kaget,” tuturnya.
Kericuhan tersebut membuat warga sekitar merasa resah dan ketakutan. Beberapa warga yang terbangun akibat suara keributan berusaha menenangkan situasi agar bentrokan tidak semakin meluas.
Selain menimbulkan korban, bentrokan juga menyebabkan kerusakan pada sejumlah fasilitas milik warga. Kaca mobil dan kaca sebuah warung dilaporkan pecah diduga akibat aksi massa yang terlibat dalam kericuhan tersebut.

