Selain potensi kerumunan besar, muncul pula kekhawatiran terhadap kemungkinan serangan Israel di tengah gencatan senjata yang dinilai masih rapuh.
Peneliti senior Foundation for Defense of Democracies, Behnam Taleblu, menilai kondisi keamanan membuat pemerintah Iran memilih menunda prosesi pemakaman.
“Sederhananya, rezim terlalu takut dan terlalu lemah untuk mengambil risiko,” ucap Taleblu pada New York Post seperti dikutip Firstpost.
Penundaan berbulan-bulan ini otomatis memicu rasa penasaran publik. Selama lebih dari 100 hari, di mana sebenarnya jenazah Khamenei disimpan? Sayangnya, Iran tak pernah memberi penjelasan resmi dan detail soal ini.
Juru bicara Markas Besar Khusus untuk Pemakaman dan Penguburan Ali Khamenei, Iman Attarzadeh, hanya memastikan jenazah tetap diperlakukan sesuai syariat Islam dan ketentuan hukum yang berlaku.
“Jenazah tersebut tidak dikuburkan atau disimpan (sebagai amanah) di mana pun,” katanya, dilansir Euro News.
Sementara itu, pakar kontra-terorisme Omar Mohammed memperkirakan jenazah disimpan dalam fasilitas pendingin, bukan diawetkan melalui proses pembalseman. Menurutnya, Islam melarang pembalseman kimiawi terhadap jenazah.

