Beberapa di antaranya melalui dukungan terhadap perubahan paradigma menuju pengasuhan anak berbasis keluarga, melalui Permensos No. 30/HUK/2011 tentang Standar Nasional Pengasuhan Anak untuk Lembaga Kesejahteraan Sosial Anak (LKSA), Peraturan Pemerintah Nomor 44 Tahun 2017 tentang Pelaksanaan Pengasuhan Anak, penguatan partisipasi anak melalui Children and Youth Advisory Network (CYAN) baik untuk isu perubahan iklim maupun perlindungan anak di ranah digital, serta berbagai kebijakan daerah yang memperkuat pemenuhan hak anak seperti penetapan Perlindungan Anak Terpadu Berbasis Masyarakat (PATBM) menjadi Lembaga Ketahanan Desa (LKD).
Selain itu, Kampanye Stop Pneumonia pada tahun 2019–2022 telah meningkatkan tuntutan masyarakat yang mendorong Kementerian Kesehatan memasukkan vaksinasi PCV (Pneumococcal Conjugate Vaccine) dalam imunisasi dasar anak. Kebijakan ini diharapkan menyelamatkan 10.000 anak balita dari kematian karena pneumonia.
“Selama 50 tahun, Save the Children Indonesia belajar bahwa perubahan yang paling bermakna tidak pernah lahir dari satu pihak, melainkan dari kolaborasi. Berbagai capaian yang telah diraih menunjukkan bahwa perubahan nyata bagi anak dapat terwujud ketika semua pihak bergerak bersama. Namun, perjalanan ini juga mengingatkan kita bahwa masih banyak tantangan yang harus dijawab. Karena itu, keberpihakan terhadap anak tidak boleh berhenti sebagai komitmen, tetapi harus diwujudkan melalui kolaborasi yang semakin kuat dan aksi yang konkret dan berkelanjutan,” ujar CEO Save the Children Indonesia, Dessy Kurwiany Ukar.
