Yang membuat UEFA makin geram, kasus semacam ini sebenarnya bukan hal baru di turnamen. Sudah ada pemain-pemain lain yang mengalami situasi serupa dan tetap harus menjalani skorsing sesuai aturan yang berlaku.
“Ini adalah prinsip yang tertanam dalam peraturan, yang tidak dapat dikecualikan, apalagi di tengah turnamen, di mana beberapa pemain lain telah berada dalam situasi yang sama dan secara teratur menjalani skorsing mereka,” lanjutnya.
Saat aturan main tidak lagi ditegakkan secara konsisten oleh pemegang otoritasnya sendiri, yang dipertaruhkan bukan cuma nasib satu pemain, melainkan kredibilitas seluruh kompetisi.
“Ketika kepastian aturan tidak lagi dijamin oleh para penjaganya, integritas permainan dipertaruhkan dan kredibilitas kompetisi dirusak. Keputusan seperti itu menciptakan preseden dalam turnamen yang sedang berlangsung, di mana situasi serupa sekarang akan memerlukan perlakuan yang sama, yang merugikan kompetisi,” tulis UEFA.
“Sebuah turnamen tidak pernah berdiri sendiri dan jika turnamen yang dimaksud adalah Piala Dunia, ia memiliki kekuatan untuk menimbulkan konsekuensi positif atau negatif pada permainan secara keseluruhan. Kami menyatakan ketidakpercayaan kami atas keputusan yang belum pernah terjadi sebelumnya, tidak dapat dipahami, dan tidak dapat dibenarkan ini.” (far)

