IPOL.ID – Kebuntuan dalam negosiasi antara Amerika Serikat (AS) dan Iran memicu kekhawatiran baru di kalangan negara-negara Arab Teluk. Alih-alih meredakan ketegangan kawasan, arah pembicaraan yang tidak menentu justru dinilai berpotensi memperkuat posisi strategis Teheran, terutama terkait kendali atas jalur vital Selat Hormuz.
Sejumlah pejabat dan analis menilai agenda negosiasi ke depan cenderung bergeser. Fokus pembahasan diperkirakan lebih diarahkan pada pembatasan program pengayaan uranium Iran serta pengelolaan pengaruhnya di Selat Hormuz.
Pergeseran ini dianggap mengesampingkan isu krusial lain seperti pengembangan rudal dan aktivitas kelompok proksi Iran di kawasan.
Sumber di kawasan Teluk mengungkapkan kekhawatiran bahwa pendekatan tersebut hanya bertujuan menjaga stabilitas ekonomi global, bukan mengurangi pengaruh Iran secara signifikan.
Selat Hormuz, yang sebelumnya tidak menjadi titik utama perundingan, kini dipandang sebagai garis merah baru dalam dinamika geopolitik.
“Pada akhirnya, Hormuz akan menjadi garis merah. Itu bukan isu sebelumnya, tapi sekarang menjadi prioritas. Targetnya telah berubah,” ungkap seorang sumber yang dekat dengan lingkaran pemerintah Teluk, dilansir Reuters, Selasa (21/4).
