IPOL.ID – Harapan Indonesia untuk memiliki Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN) kembali menguat melalui penandatanganan kerja sama antara Fakultas Teknik Universitas Gadjah Mada dan Pusat Riset Teknologi Reaktor Nuklir Badan Riset dan Inovasi Nasional pada awal pekan ini.
Kolaborasi tersebut difokuskan pada pengembangan desain reaktor nuklir kecil dan mikro untuk mendukung transisi energi nasional menuju target Net Zero Emission 2060.
Kepala Pusat Riset Teknologi Reaktor Nuklir BRIN, Topan Setiadipura menyampaikan bahwa kerja sama dengan Pusat Studi Energi UGM diarahkan untuk mendorong pemanfaatan energi nuklir sebagai bagian dari bauran energi nasional yang bersinergi dengan sumber energi lainnya.
Menurutnya, pengembangan reaktor nuklir berdaya kecil dinilai sesuai dengan kebutuhan Indonesia sebagai negara kepulauan yang memiliki kebutuhan energi tersebar di berbagai wilayah.
“Kebutuhan energi kita besar tetapi terdistribusi menjadi kebutuhan kecil di banyak tempat. Hal ini tepat untuk disuplai oleh teknologi reaktor nuklir mini atau mikroreaktor,” terangnya.
Ia menambahkan, target utama kerja sama tersebut adalah menghasilkan desain reaktor yang terlisensi dan dapat dimanfaatkan secara nyata untuk kebutuhan nasional, bukan sekadar proyek percobaan.
Penanggung jawab kerja sama dari BRIN, Dany Mulyana menjelaskan bahwa reaktor yang dikembangkan merupakan reaktor kecil dan mikro berbahan bakar uranium dioksida dengan tingkat pengayaan maksimum 20 persen berbasis teknologi TRISO.
Reaktor tersebut dirancang menghasilkan uap atau gas panas yang dapat dimanfaatkan untuk berbagai aplikasi kogenerasi, seperti produksi hidrogen dan desalinasi air laut.
Menurut Dany, desain reaktor memiliki fleksibilitas tingkat daya hingga maksimum 40 MWt, termasuk mikroreaktor dengan daya di bawah 1 MWt. BRIN juga tengah melanjutkan pengembangan desain Reaktor Daya Eksperimental (RDE) menjadi reaktor kecil PeLUIt-40.
“Kami mendiseminasikan desain ini ke perguruan tinggi agar dapat divalidasi oleh dosen dan peneliti, sekaligus dipelajari oleh mahasiswa,” jelasnya.
Pengembangan desain konseptual reaktor dilakukan melalui berbagai tahapan penelitian, mulai dari kajian literatur, penentuan spesifikasi desain awal, simulasi komputasi, hingga identifikasi kebutuhan fasilitas laboratorium, perangkat lunak, perangkat keras, dan sumber daya manusia.
Dany berharap kolaborasi tersebut dapat menghasilkan data validasi terhadap desain reaktor yang dikembangkan BRIN sekaligus mendorong keterlibatan akademisi dan mahasiswa dalam pengembangan teknologi nuklir nasional.
Sementara itu, Dekan Fakultas Teknik UGM, Selo menyebut Indonesia telah lama menantikan kehadiran PLTN sejak Program Teknik Nuklir UGM berdiri pada 1977. Namun, realisasi pembangunan PLTN masih menghadapi tantangan, terutama dari sisi kebijakan dan dinamika politik.
Meski demikian, ia menilai kemampuan teknologi dan sumber daya manusia Indonesia di bidang nuklir terus berkembang. “Sumber daya manusia kita dinilai mampu tidak hanya mengoperasikan PLTN, tetapi juga mengembangkan desain reaktor dan teknologi pendukung lainnya,” katanya.
Kerja sama antara BRIN dan Fakultas Teknik UGM diharapkan menjadi langkah strategis untuk memperkuat kesiapan Indonesia memasuki era energi nuklir sekaligus mempererat sinergi antara perguruan tinggi dan lembaga riset dalam mendukung kemandirian teknologi nasional. (ahmad)
