Ipol.idIpol.id
Aa
  • Home
  • News
  • Nasional
    • Jabodetabek
    • Jakarta Raya
    • Nusantara
  • Internasional
  • Politik
  • Hukum
  • Kriminal
  • Ekonomi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Si Ipol
  • Opini
  • More
    • Video
    • Gaya hidup
    • Sosok
    • Tekno/Science
    • Galeri
    • Indeks Berita
Reading: Indonesia Ungkap PUMMA, Alat Pemantau Tsunami Buatan dalam Negeri
Share
Ipol.idIpol.id
Aa
Cari berita disini...
  • Home
  • News
  • Nasional
    • Jabodetabek
    • Jakarta Raya
    • Nusantara
  • Internasional
  • Politik
  • Hukum
  • Kriminal
  • Ekonomi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Si Ipol
  • Opini
  • More
    • Video
    • Gaya hidup
    • Sosok
    • Tekno/Science
    • Galeri
    • Indeks Berita
Follow US
  • Redaksi
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
  • Standar Perlindungan Profesi Wartawan IPOL.ID
  • Privacy Policy
  • Disclaimer
Ipol.id > Nasional > Indonesia Ungkap PUMMA, Alat Pemantau Tsunami Buatan dalam Negeri
NasionalTekno/Science

Indonesia Ungkap PUMMA, Alat Pemantau Tsunami Buatan dalam Negeri

Iqbal
Iqbal Published 03 Jun 2026, 06:27
Share
5 Min Read
Ilustrasi, gempa magnitudo 5,6 mengguncang Pantai Selatan Bengkulu Utara, Sabtu pagi. BMKG memastikan gempa tidak berpotensi tsunami. Foto: Istock @deliormanli
Ilustrasi gempa bumi berpotensi tsunami. Foto: Istock @deliormanli
SHARE

IPOL.ID – Pusat Riset Kebencanaan Geologi (PRKG) pada Organisasi Riset Kebumian dan Maritim (ORKM) Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mengembangkan PUMMA (Perangkat Ukur Murah untuk Muka Air Laut).

Perangkat tersebut telah aktif memantau perairan pesisir Indonesia selama enam tahun terakhir. Alat yang juga dikenal dengan nama internasional sebagai Inexpensive Device for Sea-Level Measurement (IDSL) atau  ini ditujukan untuk memperkuat sistem deteksi dini tsunami di Indonesia.

Urgensi pengembangan PUMMA tidak terlepas dari karakteristik geologi Indonesia yang rentan terhadap gempa bumi dan tsunami. Indonesia memiliki kondisi geografis yang berada di jalur Ring of Fire (Cincin Api Pasifik) dan pertemuan lempeng tektonik aktif dan wilayah pesisir yang berbatasan langsung dengan lempeng megathrust menyimpan potensi gempa yang dapat memicu gelombang tsunami.

Peneliti Ahli Utama dari Kelompok Riset Volkano Tsunami dan Gelombang Panjang, PRKG BRIN, Semeidi Husrin, menjelaskan bahwa PUMMA, selain untuk tsunami, juga diharapkan dapat disandingkan dengan upaya mitigasi bencana pesisir ramah lingkungan seperti tanaman pantai, tanggul alami dan struktur berbasis material alami lainnya untuk pengelolaan dinamika pesisir dan perlindungan Pantura Jawa.

Baca Juga

IMG 20260521 WA0057
BRIN: El Nino 2026 Diperkirakan Moderat, tapi Kemarau Lebih Panjang Tetap Perlu Diwaspadai
Dari Sampah Jadi Energi: Teknologi Faspol BRIN Siap Direplikasi di 5 Lokasi di Kendal
BRIN Sulap Gas Metana TPA Jadi Sumber Energi

“PUMMA hadir sebagai jawaban atas keterbatasan sistem peringatan dini yang selama ini bertumpu pada sensor seismik. PUMMA diunggulkan karena sesuai dengan karakteristik tsunami dan kondisi geografis Indonesia yang merupakan negara kepulauan,” ujarnya melansir Rabu (3/6/2026).

Semeidi mengatakan, kata “murah” dalam nama alat ini bukan sekadar menggambarkan biaya produksi yang rendah, melainkan mencerminkan filosofi efisiensi tanpa mengorbankan keandalan. Alat ini mampu memantau kondisi (anomali) permukaan laut secara langsung dengan pembaruan data setiap 15 detik (near-real time).

“Ada usulan untuk mengganti kata ‘murah’ menjadi ‘multiguna’, karena memang fungsi alat ini tidak terbatas hanya untuk mendeteksi tsunami tetapi juga untuk hal lain, seperti mitigasi bencana pesisir dan pengelolaan sumber daya di wilayah pesisir,” ia mengungkapkan.

Semeidi juga menambahkan bahwa pengembangan PUMMA sangat mempertimbangkan kondisi khas kebencanaan di Indonesia. Menurutnya, sebagian besar tsunami di Indonesia bersifat nearfield dan atipikal, sehingga memerlukan pendekatan deteksi yang berbeda dibandingkan sistem konvensional.

“Salah satu keunggulan PUMMA adalah penempatannya yang memanfaatkan pulau-pulau kecil sebagai natural offshore buoy atau pelampung alami di tengah laut. Dengan menempatkan sensor di pulau terdekat dari sumber bencana, seperti kompleks Gunung api Anak Krakatau, informasi mengenai kenaikan air laut yang tidak wajar dapat dikirimkan ke server dalam waktu kurang dari 5 menit,” ia menjelaskan.

Pada periode 2020–2021, terdapat delapan unit IDSL yang terpasang di Indonesia, yaitu di Lampung, Banten, Jawa Barat (dua unit), Daerah Istimewa Yogyakarta, Jawa Timur, Sumatra Barat (dua unit), dan Jakarta.

“Kemampuan PUMMA sudah teruji dalam situasi nyata. Ketika tsunami akibat letusan Gunung api Hunga Tonga menghantam perairan Indonesia pada Januari 2022, PUMMA berhasil mendeteksi gelombang tersebut dan mengirimkan sekitar 36 notifikasi peringatan kepada pihak berwenang,” Semeidi mengatakan.

Semeidi juga menjelaskan bahwa selama beroperasi di pesisir, tidak satupun unit PUMMA yang mengalami vandalisme. Menurutnya, keberhasilan tersebut didukung oleh sosialisasi yang tepat sasaran. Selain mudah dipahami dan digunakan, PUMMA juga mendorong tumbuhnya rasa memiliki di kalangan warga sehingga mereka turut menjaga alat yang berfungsi mendukung keselamatan masyarakat.

“Kini, PUMMA tidak hanya dikembangkan untuk deteksi tsunami. Alat ini mulai dimanfaatkan untuk memantau fenomena banjir rob. Salah satunya di kawasan Muara Gembong, Bekasi, hal ini ditujukan agar pembangunan infrastruktur perlindungan pantai di Pantura Jawa bisa lebih terarah,” ia menambahkan.

Berbagai tantangan yang masih dihadapi dalam pengembangan sistem peringatan dini tsunami di Indonesia. Semedi menjelaskan bahwa potensi terjadinya tsunami akibat aktivitas vulkanik (volcano tsunami) di Indonesia cukup tinggi sehingga diperlukan dukungan dari berbagai pihak untuk memasang sistem pemantauan gunung api dan sistem peringatan dini di berbagai wilayah.

Ia berharap jaringan pemantauan dapat diperluas hingga ke wilayah Indonesia bagian timur yang hingga kini masih memiliki keterbatasan cakupan. Menurutnya, langkah tersebut penting untuk mewujudkan pemerataan perlindungan bagi seluruh masyarakat pesisir di Indonesia. (ahmad)

GN

Follow Akun Google News Ipol.id

Jangan sampai kamu ketinggalan update berita menarik dari kami
TAGGED: brin, Pemantau tsunami, PUMMA
Share this Article
Facebook Twitter Whatsapp Whatsapp LinkedIn Telegram Copy Link
Previous Article IMG 20260602 WA01491 KPK Terbitkan Sprindik Korupsi Jalur Kereta DJKA Sumatera, Tapi Belum Ada Tersangkanya
Next Article Layanan SIM Keliling 5 Lokasi dan Jadwal Layanan SIM Keliling Jakarta Hari Ini, Rabu 3 Juni 2026

TERPOPULER

TERPOPULER
IMG 20260718 WA0088
HeadlineJakarta Raya

Final Piala Dunia 2026 Spanyol Vs Argentina, Wali Kota Jaktim Munjirin Prediksi Skor 2-1 untuk Spanyol

Olahraga
MilkLife Athletics Challenge Seri 1 2026: Perluas Jalur Pembinaan Atletik dari KU 8 hingga KU 18
18 Jul 2026, 18:47
News
Dewan Pers Siapkan Terobosan, Berita Wartawan Bakal Dilindungi Hak Cipta dan Hasilkan Royalti
18 Jul 2026, 09:29
Nusantara
Ayah Wa Raih Pimred Award 2026, Masuk Deretan Tokoh Aceh Penerima Penghargaan Bergengsi
18 Jul 2026, 12:37
HeadlineNews
HUT ke-3 FPRMI, Bernadus Wilson Lumi Ajak Organisasi Pers Bersatu dan Tingkatkan Etika Jurnalistik
18 Jul 2026, 09:39
Ipol.idIpol.id
Follow US

IPOL.ID telah diverifikasi oleh Dewan Pers
Sertifikat Nomor 1084/DP-Verifikasi/K/IV/2023
https://dewanpers.or.id/data/perusahaanpers

Copyright © IPOL.ID. All Rights Reserved.

  • Redaksi
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
  • Standar Perlindungan Profesi Wartawan IPOL.ID
  • Privacy Policy
  • Disclaimer
Logo Ipol.id Logo Ipol.id
Welcome Back!

Sign in to your account

Lost your password?