Pengembangan Budaya Politik Partisipatif

Bersama: Tri Adhianto

Wakil Walikota Bekasi

Indoposoline.id, Bekasi – Bekasi saat ini kita pasti sama disemua daerah masih meningkatan signifikan terkait covid 19 oleh karenannya prokes 5 M terus kita lakukan. Tentunya paling utama memberikan kesadaran kepada masyarakat. Karena memang dengan sudah mulai terbukanya kegiatan keekonomian, kemudian juga kemarin setelah idul fitri, walaupun sudah diingatkan pemerintah, untuk berupaya mengurangi atau melarang terkait terjadinya pergerakan. Akan tetapi kan itu semua pada akhirnya kita merasakan betul, hari-hari ini tingkat pebnyebaran meningkat hampir 20%, di samping itu juga tingkat hunian di rumah sakit juga cukup cepat bertambahnya.

Namun, kita tidak pernah lelah dan kita terus meminta aparat kita yang memang sejak awal mereka kita libatkan sebagai relawan, untuk terus berada di lapangan apalagi kemudian dukungan pak Jokowi terhadap kota Bekasi luar biasa, kemarin kita dapat sekitar 3 ribu vaksin.

Pengembangan budaya politik partisipastif yang utama dan selalu kita lakukan dan diraskan betul manfaatnya dari partisipasi masyarakat adalah pada saat kita menetapkan anggaran, yang dimulai pada bulan januari. Kita menyelenggarakan yang namanya musrembang, yang dimulai dari tingkat kelurahan, kecamatan kemudian pada akhirnya menjadi keputusan bersama, antara pemerintah dengan legislatif. Disitulah kemudian masyarakat memberikan satu andil, apa saja sebetulnya yang menjadi kebutuhan riil yang dihadapi oleh warga masyarakat, yang kemudian hal tersebut dituangkan dalam bentuk program dan perencanaan. Yang tentunya tidak boleh lari dari rencana pembangunan jangka menengah daerah (RPJMD)-nya, kemudian juga kita punya visi dan misi, kemudian juga ada janji politik terkait dengan walikota, wakil walikota, dan kepala daerah pada saat pelaksanaan pilkada.

Inilah yang kemudian diramu, diskusikan dan ini memang biasanya cukup panjang. Karena apa? Di antara itu banyak hal yang kemudian diantara usulan dengan kemampuan anggaran pasti akan berbeda. Nah, disana nanti akan dilihat prioritas-prioritasnya, nanti akan ada prioritas 1, prioritas 2, prioritas 3 dan sebagaiinya. Dan diskusi-diskusi inilah yang kemudian akan melibatkan seluruh hampir stakeholder yang ada di masyarakat, apakah itu RT, RW, pemuda karang taruna atau knpi. Nah, inilah yang saya kira warga masyarakat harus terlibat aktif di dalamnya dan kita sebetulnya sangat berharap juga, karena bagaimana pun juga pemerintah dalam mengambil satu kebijakan tentunya apa yang dibutuhkan secara real oleh warga masyarakat, masyarakatlah yang kemudian memiliki hal untuk mendapatkan apa yang menjadi kebutuhan.

Sejauh mana masyarakat di Bekasi terlibat dalam politik partisipatif? Saya kira keterlibatannya sudah cukup besar. Kita mulai dengan misalnya pada saat pemilihan rt dan rw saja, itu sudah cukup luar biasa dinamika. Yang terjadi kemudian kita memiliki batasan-batasan aturan di mana periodeisasi juga sudah diatur, kemudian juga terkait dengan insentif yang diberikan kepada rt dan rw. Karena bagaimanapun juga itu dimulai dari sana satuan yang terkecil, kemudian juga pada kegiatan-kegiatan karang taruna atau knpi, itu dinamisasinya luar biasa. Karena keterlibatan pemuda di kota Bekasi itu mendapat penghargaan di tingkat nasional. Hal ini menunjukkan bahwa pemuda di kota Bekasi itu juga menginginkan ikut terlibat dalam proses pembangunan, mulai dari proses perencanaan, kemudian proses pelaksanaan, proses evaluasi. Dan pada akhirnya adalah itu tadi implikasi outcome dan outputnya, apa yang kemudian dirasakan oleh warga masyarakat.

Sebagai wakil walikota Bekasi untuk mengembangkan budaya politik di daerah apa yang dilakukan? Kita melibatkan beberapa stakeholder yang ada, kita punya yang namanya kesbangpol. Sejak dini kita sudah lakukan, kita punya yang namanya bonus demografi, jadi nanti pemilih pemula itu juga akan sangat luar biasa. Oleh karena itu kita mulai dengan melaksanakan fgd, kita kumpulkan mulai kumpulan ketua ketua osis sma, dimana nantinya kita akan memberikan pemahaman-pemahaman. Kita harapkan adalah sistemnya nanti tot, dimana para ketua osis tersebut kemudian bisa menyebarkan kepada teman-temannya, itu kita lakukan di antara 12 kecamatan.

Kedua ini karena pandemi kita lakukan secara webinar kita panggil tokoh untuk berbicara, ada forum-forum pemuda, dimana itu semua kita lakukan dalam proses b mendewasakan dan kita menginginkan agar mereka tidak apatis terhadap politik.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here