Adapun, skema energi baru terbarukan yang paling sesuai dengan konsep smart city adalah pembangkit listrik tenaga surya rooftop. Namun, dalam pengembangannya, membutuhkan insentif pembiayaan dari lembaga keuangan.
GM Sales Marketing dan BD TML Energy Annisa Khaerani mengatakan memang konsep sustainability yang paling sesuai adalah tenaga surya rooftop. Nah, kunci untuk membangun kota berkelanjutan itu adalah pembiayaan dari bank. Saat ini, pembiayaan di sektor ramah lingkungan untuk swasta bisa dibilang masih cukup jarang. ”Kebanyakan pembiayaan untuk tenaga surya itu lebih ke proyek pemerintah. Di sini, UOB Indonesia menjadi salah satu pionir yang membuka jalan untuk pembiayaan tenaga surya ke sektor swasta,” ujarnya.
CEO PT Selaras Daya Utama Fendi Lim mengungkapkan, perseroan memiliki proyek di satu lokasi dengan kapasitas dari 4 megawatt hingga 7 megawatt. Pertumbuhan penggunaan tenaga surya rooftop itu bisa terealisasi karena adanya pembiayaan ramah lingkungan seperti dari UOB. ”Tanpa adanya pembiayaan, perusahaan cenderung kesulitan untuk investasi energi baru terbarukan di awal. Awalnya, pembiayaan untuk energi ramah lingkungan itu hanya untuk industri, tetapi pembiayaan bagi UOB membuka jalan ekspansi ke residensial. Soalnya, sejauh ini, pembiayaan residensial menjadi market energi baru dan terbarukan yang belum bergerak,” ujarnya
