Saya pun bertanya pada Indri: level Covid-nya berapa?
Dia pun menjawab: 33.
“Gak usah panik,” kata saya. “Itu mirip dengan tidak kena Covid,” kata saya lagi. Dia tahu saya bukan dokter. Kata-kata saya itu lebih bersifat menghibur.
Indri sendiri sebenarnya tidak tahu kalau dia kena Covid-19. Tidak merasakan sedikit pun gejala-gejala Covid-19. Tidak demam. Tidak batuk. Tidak sesak napas. Dan tidak kehilangan rasa.
Dia baru tahu kalau terkena Covid-19 belakangan. Yakni dari sikap hati-hatinyi. Dia merasa baru saja bersama teman yang terkena Covid-19. Dia harus rapid test: negatif. Dia masih harus hati-hati: melakukan rapid antigen. Juga negatif. Lalu menjalani PCR: positif 33.
Indri buru-buru foto paru-paru: bersih. Tapi ia tetap isolasi diri di sebuah hotel. Anaknyi yang tiap hari mengantar segala macam keperluan. Gantian. Ketika anaknyi dulu terkena Covid-19, sang ibu yang jadi tukang antar segala macam keperluan isolasinya.
Walhasil, tidak usah panik kalau mendengar orang yang sudah vaksinasi masih terkena Covid-19. Mungkin mereka itu terlalu percaya diri. Itu wajar. Ekspektasi orang sama: begitu menjalani vaksinasi kedua, harusnya bisa langsung berteriak MERDEKA!
