Saya tentu ingin sekali bertemu Ishii. Tapi ia sudah almarhum, tahun 2002 lalu. Makamnya di pemakaman khusus orang Jepang di Kembang Kuning, Surabaya.
“Sebenarnya ayah saya berhak dimakamkan di Taman Makam Pahlawan, tapi keluarga pilih di pemakaman umum saja. Agar lebih mudah untuk mengunjunginya,” ujar putra Ishii.
Anak Ishii itu bernama Yanto Soedjatmiko. Begitulah yang tertulis di KTP. Yanto baru menyertakan nama Jepang di dalam paspornya: Yanto Soedjatmiko Hideki Ishii.
Yanto kini seumur dengan saya: 70 tahun. Badannya langsing. Tinggi.
“Ayah Anda juga tinggi seperti Anda ini?” tanya saya.
“Dibanding umumnya orang Jepang saat itu, ayah tergolong tinggi,” ujarnya. “Mungkin karena ayah lahir di Hokkaido. Banyak makan ikan,” tambahnya.
Di Hokkaido –Jepang paling utara– masih banyak keluarga Ishii. Khususnya di kampung halamannya: Kushiro –lebih ke utara lagi. Ishii lahir 10 bersaudara. Hanya ia yang dikirim perang ke Indonesia.
Saya tahu di mana itu Kushiro. Saya pernah ke sana. Bukan main dinginnya. Dan saljunya. Waktu itu ada pabrik kertas di Kushiro yang sedang dijual. Saya melihatnya, apakah bisa dibeli.

