Sebenarnya S-1 Ratri di ilmu hubungan internasional –dari Universitas Parahyangan, Bandung. Tapi keluarga ini benar-benar keluarga seniman. Maria menurunkan jiwa seni penuh ke ketiga anaknyi. Yang pertama, laki-laki, kini di Bali: Bhismo Wrhaspati. Seorang musisi. Grup musiknya bernama KunoKini.
Ratri dan adiknya mewarisi bakat tari ibu mereka. Ketika sang ibu mendirikan sanggar tari di rumah besar itu, Ratri dan sang adik ikut menjadi guru tari. Sang adik, Sita Tyasutami, jadi guru tari Jawa.
Ketiga anak itu sekolah dasar sampai menengah di Kanada –ikut ibu mereka yang mendapat beasiswa S-2 di sana. Sang ibu tetap mengasuh tiga anak itu ketika berpisah dengan sang suami – -yang bekerja di perusahaan konstruksi.
Dari cerita Ratri itu saya bisa membayangkan betapa tertekan ibu dan tiga anak itu saat dinyatakan sebagai pasien Covid No.1, 2, dan 3 di Indonesia. Apalagi diiringi berbagai gosip hoax yang jauh dari api.
Yang bisa membalikkan nama baik mereka adalah ini: Ratri menjadi orang dari golongan pertama yang mendonorkan plasma konvalesen. Maria sebenarnya juga mau. Tapi umurnyi di luar syarat yang diizinkan jadi pendonor.
