Di masa Presiden Gus Dur itu Laks –panggilan akrab Laksamana Sukardi– diganti mendadak. Yang menggantikannya: Rozy Munir. Dramatiknya, empat bulan kemudian Laks menggantikan lagi Rozy Munir.
Saya juga lupa pernah ada drama seperti itu di pusat kendali BUMN.
Drama itu, menurut buku tersebut, dimulai beberapa bulan sebelumnya. Yakni di sebuah sidang kabinet. Zaman itu setiap sidang kabinet keputusan pertamanya adalah: menyerahkan pimpinan sidang ke Wakil Presiden Megawati. Itu karena presiden punya kendala tidak bisa melihat. Sesekali Gus Dur menyela di tengah rapat. Dalam suatu sidang Gus Dur menyela, ingin bicara langsung kepada para menteri. Di situlah Gus Dur minta agar Laks menerima titipannya: mengangkat Rozy Munir sebagai sekretaris Menteri BUMN.
Laks kaget, karena –setelah cari tahu sana-sini– orang tersebut dianggapnya baik tapi jauh dari memenuhi syarat. Rozy adalah aktivis LSM. Tapi Laks tidak bisa menolak perintah presiden.
Laks masih bisa tersenyum. Ia tidak ”semenderita” menteri lainnya: Menteri Pekerjaan Umum Rozik Budioro Sutjipto. Yang juga diperintahkan Gus Dur untuk menerima sekretaris menteri yang baru: kepala PU di Kerobokan, Kuta Utara, Kabupaten Badung, Bali. Yang kapasitasnya jauh di bawah Rozy Munir. Bahkan golongan kepegawaiannya pun masih sangat rendah untuk jabatan Sesmen. Sampai-sampai sang menteri harus meloncatkan pangkat calon tersebut secara melanggar aturan.
