Selain itu, kata Gunawan Tjokro, gerakan Edgar Xavier Marvello, Kelvin Young, dan Erwein Wijayanto tidak sinkron karena ketiganya jarang melakukan latihan bersama. “Edgar dan Kevin itu kan masuk dalam skuad pelatnas sedangkan Erwein berada di pelatda. Jadi, mereka jarang menjalani latihan bersama,” ujarnya.
Hal yang sama juga dialami Jawa Timur (Jatim). Hanya saja, kata Gunawan Tjokro, Jawa Timur mengantisipasinya dengan menurunkan dua tim. Yakni, Tim utama bermaterikan kombinasi atlet pelatnas dan pelatda sedangkan Tim pelapis murni bermaterikan atlet pelatda.
“Strategi Jatim menyiapkan dua tim itu membuahkan hasil positif dimana duet atlet pelatda yakni Wiliam dan Nicolas yang selalu berlatih bersama mampu meraih emas nomor Duillian putra karena gerakannya memang benar-benar sinkron. Saya akui strategi yang diterapkan Jatim memang bagus dan akan menjadi bahan evaluasi Pengprov WI DKI Jakarta untuk menghadapi event ke depan,” tandasnya.
Gunawan Tjokro juga mengucapkan terimakasih kepada Panitia Besar PON XX Papua yang telah mendukung kesuksesan pelaksanaan cabor wushu PON XX Papua. Begitu juga dengan panitia lokal dan masyarakat Papua.
