Selain itu, seperti yang diharapkan oleh banyak pihak, sosok figur Dr Bahtiar memang yang paling tepat karena sudah dikenal netral dan dekat dengan masyarakat serta kemampuan mengharmonisasikan kepentingan masyarakat yang multikultur dan latar belakang tentang nilai-nilai kebangsaan.
Sehingga, selain tak akan terperosok oleh politik kepentingan “kubu-kubuan”, figur Dr Bahtiar akan lebih berkemampuan mengelola DKI Jakarta tanpa harus terjebak dengan kepentingan sesaat seperti apa yang diserukan Forum Rektor (32 Rektor) yang diadakan baru lalu di Universitas Gajah Mada Jogyakarta.
Sosok Bahtiar tidak mempunyai “beban” atau “kepentingan politik” sehingga lebih mudah melakukan komunikasi publik kearifan dengan seluruh pemangku kepentingan untuk mengharmonikan polarisasi Jakarta di DKI Jakarta sebagai barometer nasional. Maka, dengan latar belakang netralitas, diharapkan figur Dr Bahtiar dapat menjadi pertimbangan Presiden RI dan Tim Penilai Akhir (TPA). (Sol)

