Saat ini gunung-gununga sampah tersebut didominasi sampah plastik tak mudah terurai. Sampah plastik konvensional menjadi beban semakin berat TPST Bantargebang. Setidaknya 33% merupakan sampah plastik dari total sampah DKI dikirim ke TPST. Data tersebut bersumber dari simulasi sampling Dinas Lingkungan Hidup Pemprov DKI Jakarta tahun 2017.
Saat ini sampah DKI yang dibuang ke TPST Bantargebang 7.500-7.800 ton per hari. Ketika musim hujan akan ada penambahan menjadi 12.000 ton. TPST Bantargebang merupakan tumpukan utama sampah DKI yang dioperasikan sejak 1989.
Semua zona sudah penuh sampah dan semakin tinggi, rata-rata 40-50 meter. Dapat dikatakan, gunung sampah semakin banyak di Bantargebang. Sejak 2014 sampai 2023 pertambahan sampah rata-rata 2 juta sampai 2,7 juta per tahun.
Dampaknya, beban lingkungan hidup bertambah besar dan berpengaruh langsung terhadap menurunnya kualitas udara, air permukaan dan dalam (sumur) serta tanah, juga ancaman kesehatan. Udara kotor menyebabkan penyakit infeksi saluran pernapasan atas (ISPA), radang paru-paru, TBC, Demam Berdarah Dengue (DBD), air permukaan dan dalam tercemar bisa menyebabkan elergi/gatal kulit, disentri, muntaber, tingkat keasaman tinggi mengakibatkan gigi rusak, dll. Berbagai jenis penyakit berasal dari gunung-gunung sampah. Sampah yang tidak diolah timbulkan ancaman tersendiri.

