Sementara itu, kelompok perlengkapan, peralatan dan pemeliharaan rutin rumah tangga mengalami inflasi sebesar 0,5 persen secara bulanan (mtm) dengan andil sebesar 0,04 persen terhadap inflasi Jakarta, yang terutama disebabkan oleh kenaikan harga pada sabun deterjen bubuk atau cair, sejalan dengan kenaikan harga bahan baku oleokimia yang juga merupakan produk turunan dari minyak sawit, serta kenaikan pada upah asisten rumah tangga dan handuk.
Di sisi lain, kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya mengalami deflasi sebesar -0,13 persen secara bulanan (mtm) dengan andil -0,01 persen sehingga dapat menahan laju inflasi Jakarta pada Februari 2023.
“Deflasi pada kelompok tersebut terutama disebabkan oleh penurunan harga tas, cairan penyegar mulut, dan dompet,” imbuhnya.
Menurut Arlyana Abubakar, laju inflasi DKI Jakarta pada bulan Februari 2023 yang masih relatif terkendali tersebut tentunya tidak terlepas dari hasil sinergi, kolaborasi serta koordinasi yang dilakukan oleh Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) DKI Jakarta, termasuk dalam rangka implementasi Gerakan Nasional Pengendalian Inflasi Pangan (GNPIP).

