Dengan begitu, sambung Idrus, jadi berfikirnya tidak terlalu susah, dan harus menghargai kalau orang lain boleh bicara kenapa Anas tidak boleh. Tinggal substansi pembicaraannya, logis atau faktual. Kalau faktual silahkan pilihannya kembali ke Anas.
“Tapi kalau secara politik tidak ditunjang secara fakta-fakta dengan pendekatan hukum biasanya dua tiga bulan layu, tetapi kalau misalnya ada kekuatan hukum dan ada gerakannya itu bisa lebih bagus dan lebih efektif sehingga bergulir terus,” imbuhnya.
Sebelumnya diberitakan, Anas yang baru keluar dari Lapas langsung menyorot ke rekannya dulu Susilo Bambang Yudhoyono (SBY). Dia akan menyampaikan pidato kejutan soal SBY.
Hubungan Anas dan SBY diketahui merenggang semenjak dirinya terpilih menjadi Ketua Umum Partai berlambang Mercy itu. Hingga akhirnya Anas terjerat kasus korupsi terkait proyek Pusat Pelatihan, Pendidikan dan Sekolah Olahraga Nasional Hambalang, Bogor, Jawa Barat.
Sejurus akan hal itu, pidato kejutan tersebut ada kaitannya dengan Presiden ke-6 RI SBY yang juga merupakan rekan sejawat Anas Urbaningrum saat dirinya masih ada di kepengurusan DPP Partai Demokrat pada 2013 silam.(Joesvicar Iqbal/msb)
