Kita, mungkin, merasa kitalah yang terbaik. Kitalah yang paling berhak masuk surga. Banyak alasan yang dapat dipakai masing-masing orang bahwa dirinya yang paling layak masuk surga, setidaknya termasuk deretan orang yang patuh masuk surga. Dari mulai bacaannya yang terlengkap dan terbaik, paling rajin sholat, selalu baca Al Quran, dan bahkan sampai katam, tata cara sholatnya merasa paling benar, berperilaku sesuai perintah dan larangan Allah dan sebagainya, dan sebagainya. Padahal, sejatinya, kita belum tentu lebih baik dari yang lain.
Belum tentu kita masuk surga, sedangkan mereka tidak masuk surga. Sama pula belum tentunya mereka masuk surga, kita tidak. Bisa saja sama-sama masuk surga, atau sama-sama masuk neraka. Satu sama lain tidak pernah ada yang mengetahuinya. Semua rahasia Alllah.
Tentu, selain sholat subuh di mesjid, masih banyak pertimbangan variabel lain yang dapat mengantarkan kita, berat ke timbangan kebaikan, ataukah berat ke timbangan keburukan. Apakah, misalnya, di luar sholat subuh berjemaah di mesjid, diri kita selama ini dalam kehidupan sehari-hari berperilaku sebaik dalam sholat subuh berjemaaah?
