“Berkat teknologi ini, pasien dapat menggunakan sel puncanya sendiri untuk membuat ‘tambalan’ jantung. Hal ini tak hanya mengurangi trauma dan biaya transplantasi jantung secara drastis, namun menghindari kendala lain, seperti ketika tubuh menolak jaringan donor jantung,” jelas Dr. Gentile dilansir pr wire.
Heart Research Australia, mitra pendanaan riset ini, memuji perkembangan yang dicapai Dr. Gentile dan tim risetnya dalam mengatasi buruknya statistik dalam penyakit jantung.
“Kami gembira bahwa kerja sama riset ini terbukti sukses, dan kini memasuki babak baru. Kami juga menyambut potensi teknologi ini untuk membantu ratusan ribu orang yang mengalami gagal jantung setiap tahun,” kata Nicci Dent, CEO, Heart Research Australia.
Pengujian lebih lanjut atas efek jangka panjang teknologi ini tengah berlangsung sebelum peneliti melakukan uji klinik.
University of Technology Sydney (UTS) tercantum dalam jajaran 150 universitas terbaik di dunia. UTS dikenal atas kiprahnya dalam menciptakan dampak positif di seluruh dunia lewat berbagai kerja sama riset global. UTS berada pada posisi #1 dari sisi dampak riset di Australia. (timur)

