IPOL.ID – Peneliti Ahli Utama Pusat Riset Teknologi Lingkungan dan Teknologi Bersih Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Sri Wahyono, menegaskan pentingnya integrasi teknologi pengolahan yang disesuaikan dengan karakteristik sampah dan skala wilayah guna mewujudkan sistem pengelolaan yang efektif dan bernilai tambah.
“Pengelolaan sampah di Indonesia memerlukan pendekatan terpadu dan berkelanjutan melalui integrasi teknologi, didukung tata kelola yang kuat serta kolaborasi pemangku kepentingan,” kata Sri, dalam Webinar BRIN Enviro Talk #55, baru-baru ini.
Konsep pengelolaan sampah terpadu berkelanjutan mencakup dua dimensi utama, yaitu dimensi fisik berupa sistem dan teknologi pengolahan, serta dimensi tata kelola yang meliputi kelembagaan, regulasi, pembiayaan, dan partisipasi masyarakat. “Pendekatan ini bertujuan mengurangi beban lingkungan sekaligus menghasilkan manfaat ekonomi dan sosial,” tambahnya.
Sri menjelaskan pengelolaan sampah harus dilakukan secara menyeluruh, mulai dari pengurangan di sumber, pemilahan, pengolahan, hingga pemanfaatan kembali menjadi produk bernilai tambah. Teknologi menjadi bagian dari solusi, namun keberhasilan sangat bergantung pada tata kelola dan keterlibatan seluruh pemangku kepentingan.
Penerapan teknologi dilakukan pada tiga skala, yaitu rumah tangga, kawasan, dan kota. Pada tingkat rumah tangga, digunakan komposter dan biodigester mini. Pada tingkat kawasan, diterapkan sistem terintegrasi antara pemilahan, pengolahan organik, dan pengelolaan residu. Sedangkan pada tingkat kota, dilakukan integrasi teknologi refuse derived fuel (RDF), pengolahan termal, dan optimalisasi tempat pemrosesan akhir (TPA).
Untuk sampah organik, dikembangkan teknologi biologis seperti pengomposan cepat, biodigester untuk produksi biogas, serta pengolahan berbasis mikroorganisme. Sementara itu, sampah anorganik, khususnya plastik, diolah melalui teknologi pirolisis menjadi bahan bakar alternatif dan RDF sebagai bahan bakar industri.
“Kolaborasi antara pemerintah, akademisi, industri, dan masyarakat menjadi kunci dalam mendorong penerapan teknologi hasil riset. Inovasi diharapkan tidak berhenti di laboratorium, tetapi dapat diterapkan secara luas untuk mengatasi persoalan sampah,” pungkasnya. (ahmad)
