“Jarang yang pakai mobil odong-odong. Jadi orang-orang high class semua,” beber Badrudin.
Dia mengungkapkan, dari hasil penelusuran, para penyuka sesama jenis kerap memarkirkan kendaraannya di tepi jalan dekat Hutan Kota UKI Cawang di Jalan Mayjen Sutoyo.
Akses masuk ke Hutan Kota UKI Cawang, dilalui mereka dari celah pagar pembatas yang berlubang. Hingga berbuat mesum di sudut belakang hutan kota sehingga tidak terpantau.
“Kegiatan mereka itu malam, kalau pagi jarang. Karena kalau pagi kan ada PHL dari Sudin Pertamanan, jadi mereka malam kegiatannya,” tukas dia.
Sementara itu, salah satu pengendara motor Doni, 28, karyawan swasta mengatakan, ketika dia pulang kerja melalui taman tersebut pada malam hari kerap melihat ada saja beberapa laki-laki yang berdiri seperti mejeng di pinggir jalan di Taman Hutan Kota UKI Cawang.
“Ya akal sehat saja kalau malam-malam laki-laki mejeng di pinggir jalan di sekitar Taman Hutan Kota UKI Cawang ya mau ngapain lagi, apalagi kan posisi halte busway kan jaraknya lumayan jauh, masa nunggu bus di bukan tempatnya, ya kita kan warga resah juga bisa mengundang aksi kejahatan juga kan, ya tempatnya gelap juga kan, bagusnya ya ditertibkan aparat,” pungkas Doni. (Joesvicar Iqbal)