“Alhamdulillah mama masih ada. Dia benar benar terharu. Air matanya berderai karena anak bungsunya bisa mewujudkan impiannya,” sambungnya.
Rahmat, pemuda desa itu bersyukur, karena akses kuliah di luar negeri kini demikian terbuka dan bisa diikuti siap saja. “Terima kasih Gus Men Yaqut Cholil Qoumas, terima kasih Kementrian Agama. Program MOSMA sangat luar biasa hingga bisa membukakan akses beasiswa bagi pemuda desa seperti saya,” sebutnya.
Rahmat berharap program ini tidak hanya memberikan manfaat untuk dirinya, tapi juga sesama generasi muda di seluruh daerah Indonesia. “Dari mana kita berasal, di mana kita belajar, status ekonomi kita apa, semua itu tidaklah menjadi alasan bagi kita untuk tidak berprestasi. Sebab, sejatinya kitalah yang membangun batasan itu sendiri. Padahal kita belum mencoba sama sekali. Iya, akan ada masa di mana kita pasti menghadapi penolakan, kegagalan, tetapi itu semua hanyalah bagian atau satu kesatuan proses menuju keberhasilan,” tandasnya. ***
