IPOL.ID – Pasangan calon pengantin yang melakukan foto prewedding menggunakan flare meminta maaf karena menyebabkan kebakaran di Bukit Teletubbies, Gunung Bromo.
Pasangan calon pengantin itu adalah Hendra Purnama dan Pratiwi Mandala Putri.
Mereka berasal dari Surabaya dan Palembang. Pasangan tersebut datang bersama fotografer dan kuasa hukumnya, Jumat (15/9).
Mereka menyatakan permintaan maaf di ruang pertemuan Balai Desa Ngadisari, Kecamatan Sukapura Kabupaten Probolinggo.
Pertemuan dihadiri Kades Ngadisari, Kades Jetak, Kades Wonotoro, Ketua dan Wakil Dukun Pandita serta Kanit Reskrim Polsek Sukapura Aipda Dadang Hariyanto.
Aipda Dadang membuka pertemuan itu, dengan menjelaskan maksud kedatangan kedua pasangan dan kuasa hukumnya.
Ia meminta Mustaji, kuasa hukum pasangan calon pengantin itu untuk menyampaikan permintaan maafnya.
Mustaji sembari berdiri menyampaikan permintaan maaf. Ia menjelaskan, kebakaran yang terjadi bukan dengan unsur kesengajaan semua pihak yang hadir saat prewedding itu.
“Namun tetap, kami memohon maaf kepada kades serta romo dukun,” ucapnya.
Tak hanya kuasa hukum Mustaji, calon pengantin laki-laki yaitu Hendra Purnama juga meminta maaf.
“Kami meminta maaf kepada presiden, jajaran menteri dan kabinet, Pemerintah Provinsi Jatim, pemerintah daerah khususnya, Probolinggo dan Pasuruan serta seluruh masyarakat Indonesia,” ucap Hendra .
Hendra juga menambahkan bahwa dia dan teman-temannya bukan tidak ada upaya memadamkan api saat mengetahui adanya kebakaran akibat menyalakan flare untuk foto prewedding nya.
“Kami sudah berupaya memadamkan api dengan mengambil 5 botol persediaan kami di mobil, tapi karena keterbatasan kami dan juga kondisi angin kencang, rumput juga kering sehingga kebakaran tidak bisa kami atasi. Sekali lagi kami mohon maaf sebesar-besarnya,” ungkap Hendra.
Permintaan maaf diterima oleh Kepala Desa Ngadisari Sunaryono. Bahkan menurutnya, penerimaan maaf sudah ia berikan.
“Sudah kami maafkan, yang penting ke depannya hal-hal serupa tidak pernah terjadi lagi,” jelas Sunaryono.
Sunaryono juga menjelaskan, ia akan menyampaikan permintaan maaf seluruh pihak yang terlibat kepada masyarakatnya. Menurutnya, permintaan maaf itu akan diterima.
“Karena sudah menjadi tradisi kami, sebagai masyarakat yang menjunjung kedamaian. Sehingga permintaan maaf sudah seharusnya kamu terima,” ujar Sunaryono.
Kades Jetak Ngantoro, Kades Wontoro Sarwo Slamet, dan para pengelola wisata juga menyatakan menerima permintaan maaf itu.
Permintaan maaf juga ditujukan pada sesepuh atau dukun kawasan Bromo. Ketua Pandita Sutomo dan wakilnya juga mengatakan sudah memaafkan.
“Tidak apa-apa ya, yang penting tidak terulang. Namanya juga menuju pernikahan. Makanya ada pepatah, jangan bermain api kalau tidak ingin terkena ke kita,” tutur Sutomo.
Sutomo menjelaskan, meski pihaknya sudah memaafkan bukan berarti mahluk spiritual di kawasan yang terbakar dapat memaafkannya.
“Itu di luar kendali kami. Tapi menjadi tugas kami sebagai melayani masyarakat,” kata Sutomo.
Pertemuan dengan sowan permintaan maaf itu diakhiri dengan ucapan terimakasih dan berjabat tangan semua pihak. (vinolla)
Didampingi Kuasa Hukum, Pasangan Prewedding Penyebab Kebakaran Bromo Minta Maaf
