Tulisan tersebut juga menampilkan analis dari peneliti senior Pusat Kajian Radikalisme dan Deradikalisasi (PAKAR), Muhamad Taufiqurrohman yang mengatakan meskipun dukungan ulama tersebut dapat membantu Anies memenangkan beberapa suara namun juga dapat menjadi bumerang bagi Anies.
“Deklarasi Abu Bakar Bashir akan berdampak buruk bagi Anies, karena memperkuat pandangan masyarakat bahwa Anies adalah bapak politik identitas yang didukung oleh kelompok radikal,” kata Taufiqurrohman dikutip dari artikel itu.
“Bashir mendukung Anies karena ia memandang Anies sebagai calon presiden yang paling mungkin mendukung penerapan hukum syariah dan pembentukan khilafah di Indonesia,” lanjut dia.
Abu Bakar Ba’asyir bukanlah satu-satunya tokoh garis keras yang mendukung Anies. Media ini juga menyoroti nama Ustadz Abdul Somad, yang disebut sebagai seorang pengkhotbah penghasut yang ditolak masuk ke Singapura pada tahun 2022, karena dianggap seorang “ekstremis dan segregasionis”.
Hal ini terkait kontestasi pemilihan gubernur DKI Jakarta tahun 2017, di mana Anies menang melawan petahana Basuki Tjahaja Purnama (Ahok). Anies saat itu merayu pemilih konservatif dan tampil di rapat umum dengan para pemimpin Islam garis keras yang berkampanye untuk menggulingkan saingannya Ahok yang saat itu merupakan orang Kristen keturunan Tionghoa pertama yang memegang jabatan puncak di kota tersebut.
