Padahal Jawa Barat, DKI Jakarta dan Jatim rata-rata menggelontorkan dana sebesar Rp 300 miliar lebih. Dan itu menurut Alex masih dirasa kurang bagi ketiga daerah tersebut.
Alex juga menyoroti sistem pembinaan atlet menghadapi PON Aceh-Sumut 2024. Menurutnya model pembinaan yang dibuat KPNI Jateng dengan periodesasi persiapan atlet sesuai skala prioritas cabor tidaklah tepat.
“Seharusnya cabor yang peluangnya meraih medali eams tipis, diberi waktu persiapan yang panjang, tidak sebaliknya. Kenyataannya sekarang, bagi cabor yang hanya berpeluang meraih medali perak dan perunggu diberi batasan waktu lebih pendek dari cabor prioritas. Ini tidak benar,” paparnya.
”Kalau Jateng memang harus puas di ranking 6 besar PON, ya sudah kita tidak usah ngoyo atau kerja keras melakukan TC PON Aceh-Sumut 2024,” tandasnya.
Hal senada dikatakan Ketua Harian Pengprov TI Jateng, Agus Soewito. Menurutnya, pihaknya menyayangkan KONI Jateng tidak bisa memenuhi kebutuhan pelatda dan TC atlet taekwondo PON Aceh-Sumut.
