Pada perempat final, Noya, belia 12 tahun, menghadang laju unggulan ketiga asal Hong Kong, Hoi Hei Hui, 6-4, 6-1. Kemenangan pertama Noya di babak perempat final ini datang setelah tiga kali percobaan sepanjang tahun lalu.
“Pertandingan hari ini agak sulit. Mungkin karena lawanku sering protes, ya. Dia juga bisa ngasih bola panjang-pendek waktu rally. Untungnya, aku bisa menjaga servisku dan menyerang tiap ada bola tanggung depan net. Aku nyisipin bola spin di rally untuk membuatnya tidak nyaman,” ujar Noya, yang menyukai Iga Swiatek.
Sementara itu, Johanna, pemilik tiga trofi ganda ATF, meraih semifinal keduanya usai menangi duel sesama negeri atas Amelia Putri Tennizya Vesty 1-6, 6-0, 6-2. Belia 14 tahun ini mengicar final kedua untuk menjawab rasa penasaran akan gelar tunggal ATF. Di final pertamanya, ia menyerah dari Cantik Qur’ani, 7-5, 6-1.
“Hari ini lumayan susah. Kalah sama diri sendiri. Kayaknya gara-gara jadi seeded satu. Rada bikin deg-degan. Pas set pertama, aku kayak nyerah duluan, enggak main ngotot,” tutur Johanna, siswi SMP Negeri 1 Bendosari, Sukoharjo.
