Jadi, hambatan utama tewujudnya negara Palestina berdaulat adalah Israel itu sendiri. Ia tidak bahagia melihat Palestina merdeka dan berdaulat seutuhnya. Israel tidak nyaman menyaksikan Palestina hidup dengan wilayah teritori yang berkekuatan hukum mengikat dan diaku dunia internasional sehingga dengan begitu tidak ada alasan bagi Israel untuk terus melakukan pencaplokan dan penjajahan atas Palestina di era modern seperti sekarang.
Merespon sikap keras kepala dan tidak tahu diri Israel tersebut, sejatinya semua entitas negara dan pihak-pihak yang memiliki jiwa kemanusiaan serta rasa empati atas penderitaan rakyat Palestina harus tetap konsisten dengan sikap politik yang mereka perlihatkan saat ini.
Hemat penulis, teruslah bersuara, tetaplah tegas memperjuangkan berdirinya negara Palestina berdaulat! Jangan pernah takut dengan semua alibi politik Israel karena bagaimana pun posisi mereka salah, namun, bersikap seolah-olah benar.
Jangan gentar dengan Israel! Lawan terus negeri zionis tersebut hingga cita-cita besar lahirnya negara Palestina yang merdeka dan berdaulat sungguh-sungguh menjadi kenyataan. Jika harapan berdirinya negara Palestina terwujud, maka yang diuntungkan adalah PBB dan negara-negara yang konsisten memperjuangkan nilai-nilai yang terkandung dalam Piagam PBB seperti perdamaian dunia, persaudaraan, kesetaraan, hak asasi manusia, kemerdekaan menentukan nasib sendiri, dan sebagainya. Semoga! (tim)

