Dengan memetakan daerah-daerah patahan aktif, pemerintah dapat mengetahui area mana saja yang perlu diwaspadai dan diambil langkah mitigasi yang tepat.
Kepala Pusat Penelitian dan Pengembangan BMKG Rahmat Triyono menambahkan, identifikasi sesar aktif maupun sesar yang belum terpetakan juga bisa dilakukan dengan monitoring gempa mikro, menggunakan jaringan seismograf BMKG.
“Identifikasi sesar aktif dari hasil analisis gempa mikro adalah upaya mitigasi bencana gempa bumi. Sehingga, diharapkan semua sumber gempa di darat dapat dipetakan dengan baik,” ucapnya.
Dirinya menekankan perlunya segera melakukan verifikasi lapangan atau survei pemetaan melalui kolaborasi antar institusi semisal BRIN, BMKG, dan perguruan tinggi. Hal ini perlu dilakukan terhadap adanya indikasi sumber gempa bumi yang berada di lokasi sesar yang belum terpetakan.
Pemetaan sesar aktif di Pulau Jawa ramai dibicarakan setelah terjadi gempa bumi di Cianjur pada 2022 dan Sumedang pada 2023. Terakhir gempa bumi Bawean pada 2024. Ketiga gempa bumi tersebut merupakan gempa yang muncul pada sesar yang belum terpetakan dan daerah yang tidak diduga akan terjadi gempa. (tim)
