IPOL.ID – Gelombang panas ekstrem yang melanda Eropa kembali memakan korban jiwa. Prancis menjadi salah satu negara dengan dampak paling parah setelah otoritas kesehatan melaporkan sekitar 1.000 kematian berlebih (excess deaths) selama periode gelombang panas yang memecahkan rekor suhu pada akhir Juni. Mayoritas korban merupakan warga lanjut usia berusia di atas 65 tahun, sementara rumah sakit hingga layanan kesehatan dilaporkan bekerja di bawah tekanan tinggi.
Fenomena cuaca ekstrem tersebut menjadi pengingat bahwa perubahan iklim membuat kejadian heat wave semakin sering, lebih lama, dan lebih mematikan. Organisasi meteorologi dunia juga mencatat suhu di berbagai wilayah Eropa menembus rekor baru, disertai meningkatnya risiko kebakaran hutan, gangguan infrastruktur, hingga krisis kesehatan masyarakat.
Lalu bagaimana dengan Indonesia?
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menegaskan Indonesia saat ini belum mengalami gelombang panas seperti yang terjadi di Eropa. Namun, BMKG mengingatkan adanya peluang transisi menuju El Nino lemah hingga sedang pada paruh kedua 2026 dengan probabilitas sekitar 50–80 persen. Kondisi tersebut berpotensi memperkuat musim kemarau, menurunkan curah hujan, meningkatkan risiko kekeringan, serta memperbesar peluang kebakaran hutan dan lahan.
Dalam prakiraan iklim terbarunya, BMKG memperkirakan musim kemarau berlangsung bertahap di banyak wilayah Indonesia. Meski demikian, potensi hujan lokal dan cuaca ekstrem masih dapat terjadi akibat dinamika atmosfer, sehingga masyarakat diminta tidak lengah hanya karena memasuki musim kemarau.
Pemerintah bersama BMKG mengimbau pemerintah daerah memperkuat kesiapsiagaan menghadapi ancaman kekeringan, memastikan ketersediaan air bersih, mengantisipasi kebakaran hutan dan lahan, serta menjaga ketahanan pangan melalui pengaturan pola tanam dan irigasi.
BMKG juga mengingatkan masyarakat untuk menghemat penggunaan air, menghindari aktivitas berat saat suhu udara sedang tinggi, memperbanyak konsumsi air minum, serta terus memantau informasi prakiraan cuaca resmi sebagai dasar dalam beraktivitas. Kelompok rentan seperti lansia, balita, dan penderita penyakit kronis diminta memperoleh perhatian khusus ketika suhu meningkat.
Pengamat iklim menilai pengalaman Prancis menjadi peringatan bahwa dampak perubahan iklim tidak lagi menjadi ancaman masa depan, melainkan sudah dirasakan saat ini. Indonesia memang memiliki karakter iklim tropis yang berbeda dengan Eropa sehingga peluang terjadinya heat wave ekstrem relatif kecil. Namun, kombinasi El Nino, musim kemarau yang lebih panjang, dan pemanasan global tetap dapat memicu suhu udara lebih panas, krisis air, hingga meningkatnya risiko kebakaran hutan apabila langkah mitigasi tidak dilakukan sejak dini. (tim)

