“Ini lebih ditertawakan lagi, bagaimana mungkin saat itu umat Islam bisa mendirikan universitas yang megah lagi. Gagasan itu mahal biarpun baru di kemudian hari kita baru bisa mewujudkan,” kata Haedar.
Gagasan besar mendirikan sekolah dan universitas ini tak kalah ditertawakannya seperti cita-cita mendirikan rumah sakit, sebab saat itu umat Islam masih tertinggal dan yang dianggap mampu untuk merealisasikan itu hanyalah Pemerintah Kolonial.
Gagasan itu memang mahal, kata Haedar, tidak serta merta langsung bisa direalisasikan saat itu juga. Akan tetapi kemudian waktu yang menjawab, Persyarikatan Muhammadiyah menjadi organisasi Islam terbesar di dunia yang memiliki ratusan rumah sakit dan perguruan tinggi.
Lahirnya berbagai amal usaha tersebut dibidani oleh nilai-nilai pembaharuan yang dipedomani oleh Muhammadiyah, yang menurut Prof. Mukti Ali itu menjadi pembeda antara Muhammadiyah dengan gerakan pembaharuan Islam yang lain.
“Yang dulu itu lebih bersifat revivalisme Islam, Muhammadiyah bergerak menjadi modernisme Islam,” ungkap Haedar.

