Hingga kini baru dua jenazah yang dinyatakan teridentifikasi berdasar pencocokan data sidik jari serta gigi, yakni Muhammad Rizky, 19, dan remaja laki-laki berinisial AD, 16.
“Dari gigi kesulitannya tidak akuratnya data gigi saat korban masih hidup. Masih diupayakan. Sudah ditanyakan (rekam medis gigi korban), namun tidak ada info atau data akurat,” jelas dia.
Nyoman mengatakan, informasi data pembanding gigi korban semasa hidup yang diberikan pihak keluarga belum memadai, sehingga sulit dilakukan pencocokan dengan data postmortem.
Informasi dari pihak keluarga seperti kondisi gigi depan korban yang keropos tidak dapat mengidentifikasi secara pasti, karena dimungkinkan ada banyak orang mengalami kondisi gigi serupa.
“Beberapa foto gigi geligi (korban semasa hidup) dalam kondisi meringis ada, bisa mengarahkan pada seseorang namun belum bisa memastikan secara spesifik,” tukasnya.
Sedangkan identifikasi melalui pencocokan data antemortem DNA dari keluarga korban dengan postmortem dari jenazah korban butuh waktu karena melalui serangkaian proses.

