Disebutnya, kali tersebut dibangun untuk mengurangi dampak banjir di Batavia pada masa tersebut.
“Selain mengenang jasa Phoa Beng Gan, kita juga ingin mendorong festival ini mejadi kegiatan yang semakin inklusif,” jelasnya.
Ia menyebut, meski diinisiasi oleh komunitas Tionghoa, perayaan tersebut tidak ingin dibuat ekslusif. “Karena kita tahu bahwa budaya khususnya di Jakarta sudah berakulturasi,” paparnya.
Melalui kegiatan budaya ini, lanjut Andre, kami mendorong supaya perayaan ini menjadi sebuah pesta rakyat, di mana warga Jakarta bisa merayakan Festival Kue Bulan.
Andre yang juga menjabat sebagai pengurus Perhimpunan Indonesia Tionghoa (INTI) DK Jakarta juga mengatakan bahwa Bidang Kebudayaan Perhimpunan INTI berkomitmen dalam pelestarian budaya Tionghoa di Jakarta dan melalui INTI PC Jakarta Pusat mendukung kegiatan Jakarta Mooncake Festival melalui kontribusi dan keterlibatan para pengurusnya dalam kepanitiaan bersama ini.
Deputi Bidang Produk Wisata dan Penyelenggara Kegiatan Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif RI, Vinsensius Jemadu, yang hadir memberikan sambutan menyampaikan bahwa peryaan tradisional Tiongoha ini merupakan simbol keharmonisan, simbol dari rasa menghargai, rasa ucapan syukur di kalangan masyarakat komunitas Tionghoa.
