“Pengumuman ini akan menciptakan kondisi untuk memulihkan ketenangan abadi dan memungkinkan penduduk di kedua negara untuk kembali ke rumah mereka dengan selamat,” kata pernyataan bersama dari AS dan Prancis, yang keduanya akan bergabung dengan mekanisme yang ada yang bertugas menegakkan resolusi PBB yang sebelumnya ditetapkan pada akhir perang 2006.
Perdana Menteri Lebanon Najib Mikati menyambut baik kesepakatan gencatan senjata tersebut. Ia menyebutnya sebagai “langkah mendasar menuju pemulihan ketenangan dan stabilitas” di negara itu dan memungkinkan warga untuk kembali ke rumah.
Namun, ia juga menuntut Israel untuk “sepenuhnya mematuhi” kesepakatan tersebut, meninggalkan lokasi yang saat ini didudukinya, dan menghormati resolusi PBB.
Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu mengatakan Israel tidak akan ragu untuk menyerang jika Hizbullah melanggar bagian mana pun dari kesepakatan yang disepakati.
“Jika Hizbullah melanggar perjanjian dan mencoba mempersenjatai diri, kami akan menyerang. Jika mencoba membangun kembali infrastruktur teroris di dekat perbatasan, kami akan menyerang,” katanya.
