Namun hal ini membuat data yang dibutuhkan meliputi data-data sensitif seperti data pribadi. “Hal ini menimbulkan kecemasan dan juga kekhawatiran terkait pengumpulan, penyimpanan, dan penggunaan data yang dapat melanggar privasi individu,” tuturnya.
Selanjutnya yang keempat adalah dampak penggantian tenaga kerja dengan teknologi AI. Menurutnya, isu ini menjadi besar dan ramai dibicarakan hingga tingkat global.
Kemajuan teknologi AI memang membuka peluang pekerjaan yang baru untuk manusia. Namun, terdapat juga risiko-risiko yang ditimbulkan akibat kemajuan teknologi AI.
Salah satunya yakni kehilangan pekerjaan pada sejumlah sektor industri tertentu, yang diakibatkan penggantian tenaga kerja dengan teknologi AI.
“Karena itu dalam membuat policy dan membuat kebijakan di masa transisi atau di masa transformasi digital ini, dibutuhkan data-data yang cukup valid. Lalu strategi yang tepat juga agar kita bisa memastikan pekerjaan yang terdampak, dapat beradaptasi dengan perubahan,” imbuh Nezar.
Yang kelima adalah antisipasi dalam kreativitas dan kepemilikan karya seni oleh AI. Baginya, kreativitas dan kepemilikan karya seni dari AI tidak jelas status kepemilikannya.