Di Ibu Kota Thailand, Bangkok, yang berjarak 1.000 km dari episentrum, misi penyelamatan diintensifkan pada tanggal 29 Maret untuk menemukan pekerja konstruksi yang terjebak di bawah reruntuhan menara setinggi 33 lantai.
Hough, yang bekerja di Myanmar pada jaringan seismologi lokal mengatakan, kombinasi bangunan modern dan bangunan tradisional yang mewarnai Myanmar juga berperan dalam menyumbang angka kematian.
“Bangunan tradisional tidak terlalu mematikan dibandingkan bangunan beton,” katanya.
Pihak berwenang Thailand mengatakan sembilan orang tewas dan 101 orang hilang di Bangkok akibat gempa 7,7 SR Myanmar. Mayoritas adalah pekerja yang terjebak di reruntuhan menara.
Kami akan melakukan segalanya. Kami tidak akan menyerah untuk menyelamatkan nyawa. Kami akan menggunakan semua sumber daya,” kata Gubernur Bangkok Chadchart Sittipunt di lokasi reruntuhan, saat ekskavator memindahkan puing-puing dan pesawat nirawak menyisir reruntuhan untuk mencari korban selamat, Sabtu (29/3/2025).
Ibu kota Thailand lumpuh total pada tanggal 28 Maret 2025. Ratusan orang dilaporkan bermalam di taman-taman kota. Namun saat ini, situasinya membaik. (bam)