“Lumpur ini memiliki suhu yang tinggi dan menyebabkan mikroba hidup sehingga memudahkan penelitian tentang MFC,” jelasnya.
Proses pembuatan MFC sebagai sumber energi listrik dimulai dengan menggabungkan limbah organik dan lumpur Sidoarjo melalui reaksi sel volta. Lumpur Sidoarjo yang didapat akan diproses menjadi sumber mikroba yang direaksikan dengan limbah organik, seperti limbah makanan dan limbah kotoran.
Limbah organik yang sudah direaksikan dengan mikroba akan dialirkan ke anoda menuju katoda sehingga akan menghasilkan energi listrik.
Penelitian MFC Fitria turut diperkaya dengan pengalamannya saat mengikuti pertukaran pelajar di Saga University, Jepang. Disana, Fitria mempelajari MFC berbasis sensor, yang menitikberatkan perkembangan metabolisme dan adaptasi tanaman pada lingkungannya. “MFC tersebut akan sangat berpengaruh pada penelitian sebelumnya sebagai perkembangan proses MFC yang berdaya listrik lebih besar,” tambahnya.
Setelah itu, Fitria melakukan uji coba selama satu bulan untuk menyempurnakan purwarupa MFC. Perempuan anak pertama ini menambahkan komposisi limbah organik yang lebih kompleks agar mikroba menghasilkan energi lebih optimal. Usaha penelitian ini memungkinkan MFC menyimpan energi listrik dalam bank daya serta menyalakan lampu LED secara berkelanjutan.