Menko AHY menekankan bahwa pembangunan pelabuhan ini juga sejalan dengan Asta Cita Presiden Prabowo Subianto, khususnya poin ketiga yaitu membangun dari desa dan dari bawah untuk pemerataan ekonomi dan pemberantasan kemiskinan. Ia berharap Batam tidak hanya menjadi kawasan industri dan manufaktur, tetapi juga hub strategis maritim Indonesia di kawasan Asia Tenggara.
“Semoga sesuai dengan harapannya, dermaga berkelas internasional ini bisa menghadirkan lebih banyak pariwisata, mendatangkan lebih banyak investor, menggerakkan ekonomi di sekitar Bengkong ini yang tumbuh, termasuk pelaku UMKM, restoran, kafe-kafe, ruko-ruko, perumahan, real estate dan lain sebagainya. Ini juga akan membuka lapangan pekerjaan. Sehingga pada akhirnya Batam sebagai kota industri manufaktur, sebagai kota perdagangan, sebagai kota etalase ekonomi bisa semakin maju dan berkembang,” jelas Menko AHY.
Pembangunan pelabuhan ini ditargetkan menyerap 1.500–2.000 lapangan kerja langsung dan tidak langsung dalam dua tahun ke depan. Selain itu, pelabuhan ini diharapkan menjadi katalisator pelatihan keterampilan bagi masyarakat lokal serta membangkitkan kembali sektor UMKM di wilayah Bengkong dan sekitarnya. Kehadiran Gold Coast Ferry Terminal Bengkong juga memperkuat posisi Batam sebagai pintu gerbang maritim Indonesia yang strategis, sekaligus menunjukkan komitmen pemerintah untuk membangun dari pinggiran. Pelabuhan ini menjadi bukti nyata bahwa pembangunan infrastruktur tidak hanya terpusat di kota besar, tetapi juga menjangkau garis depan wilayah kepulauan.
