Pendidikan yang baik pada akhirnya akan sukses menjadikan manusia memiliki disiplin yang kuat, sadar bahwa Tuhan selalu hadir dalam setiap detik tingkah laku manusia, tidak ada yang luput dari pengawasannya. Untuk menempa anak didik berketuhanan tentu perlu latihan dan di sinilah pentingnya peran pendidik seperti guru, dosen, orang tua, dan masyarakat. Sekolah perlu memberi anak instrumen latihan mengenal Tuhan dengan cara seperti, mendirikan kantin kejujuran untuk melatih pelajar/mahasiswa bersikap jujur, membiarkan pelajar/mahasiswa mengerjakan soal ujian tanpa diawasi oleh pengawas manusia, namun, tetap diawasi dengan misalnya CCTV, menghidupkan rumah ibadah seperti musala atau masjid sekolah/kampus dengan aktivitas spiritual yang dapat meningkatkan literasi keagamaan para penghuni sekolah/kampus sehingga mereka dapat lebih tercerahkan tentang apa yang agama bolehkan dan apa yang agama larang dalam pergaulan hidup sehari-hari.
Munculnya solusi mengirim anak-anak nakal ke barak militer untuk membuat mereka disiplin barangkali ada sisi positifnya sepanjang tidak membuat peran pendidik di sekolah, rumah, dan masyarakat lepas tangan dalam membina anak. Adanya inisiatif pemerintah yang membuat satgas Pencegahan dan Penanganan Kekerasan Seksual (PPKS) di lingkungan kampus untuk melawan segala kejahatan seksual beberapa tahun lalu patut diapresiasi. Namun, mengapa setelah satgas PPKS dibentuk, kejahatan seksual di lingkungan pendidikan tinggi masih terus ada dan berulang? Sekali lagi, di sinilah pentingnya nilai-nilai Ketuhanan dan literasi keagamaan.
