“Di heli pun juga persoalannya salah satu tebing tempat jatuhnya itu adalah dari pasir, nanti akibat daripada putaran baling-baling ini juga bisa berhamburan masuk ke mesin. Disamping visibilitas pilot juga sangat terbatas sehingga strategi dengan helikopter ini tidak bisa dilakukan,” jelas Ahmadi.
Ia juga menyebut medan evakuasi sangat berbahaya. Selain itu, cuaca buruk berupa hujan dan kabut tebal terus menghambat proses pencarian.
“Dalamnya posisi jatuhnya korban, kemudian kondisi cuaca, ditambah juga dengan kondisi geologi yang ada di sekitar tebing,” terangnya.
Ia mengatakan kondisi sekitar tebing berpasir dan memiliki batuan yang lapuk. Kondisi tersebut menurutnya membuat tim di lapangan harus berhati-hati guna menghindari jatuhnya batuan dan pasir agar tidak menimpa petugas yang di bawah, juga korban yang akan diangkat ke atas. Lalu juga terkendala evakuasi dari faktor cuaca.
“Cuaca sampai saat ini juga di Sembalun pun juga sedang hujan dan kabut tebal,” bebernya.
Pada Minggu (22/6/2025), pencarian dilanjutkan menggunakan drone, namun hasilnya minim karena kabut tebal. Pencarian kembali dilakukan Senin (23/6/2025) dengan bantuan UAV (unmanned aerial vehicle).
Sekitar pukul 07.59 WITA, korban akhirnya terdeteksi pada posisi sekitar 500 meter dari titik awal jatuh, di medan pasir dan batu terjal.

